PENGERTIAN TEORI AKUNTANSI
DAN PENALARAN
ARTI PENTING TEORI AKUNTANSI
Teori akuntansi merupakan bagian
penting dari praktik. Pemahaman oleh praktisi dan penyusun standar akan sangat
mendorong pengembangan serta perbaikan menuju praktik yang sehat. Teori akuntansi
menjadi landasan untuk memecahkan masalah-masalah akuntansi secara beralasan
atau bernalar yang secara etis dan ilmiah dapat dipertanggungjawabkan (Kam,
1990).
PENGEMBANGAN AKUNTANSI
Seperangkat
pengetahuan akuntansi dapat dipandang dari dua sisi pengertian yaitu sebagai
pengetahuan profesi (keahlian) yang dipraktikkan di dunia nyata dan sekaligus
sebagai suatu disiplin pengetahuan yang diajarkan di perguruan tinggi. Dari
segi profesi, akuntansi sering dipandang semata-mata sebagai serangkaian prosedur,
metoda, dan teknik tanpa memperhatikan teori dibalik praktik tersebut.
Akuntansi dipandang sebagai pelaksanaan dan penerapan standar untuk menyusun
seperangkat laporan keuangan.
Sebagai
objek pengetahuan di perguruan tinggi, akademisi memandang akuntansi sebagai
dua bidang kajian yaitu bidang praktik dan teori. Bidang praktik berkepentingan
denganmasalah bagaimana praktik dijalankan sesuai dengan PABU. Bidang teori
berkepentingan dengan penjelasan, deskripsi, dan argumen yang dianggap
melandasi praktik akuntansi yang semuanya dicakup dalam suatu pengetahuan yang
disebut teori akuntansi.
PENGERTIAN AKUNTANSI DAN TEORI AKUNTANSI
Pengertian
teori akuntansi sangat bergantung pada pengertian atau pendefenisian akntansi
sebagai suatu bidang pengetahuan. Artinya, kedudukan akuntansi dalam tatanan
(taksonomi) pengetahuan juga akan menentukan pengertian dan lingkup teori
akuntansi. Akuntansi didefenisikan sebagai seperangkat pengetahuan karena
wilayah materi dan kegiatan cukup luas dan dalam serta telah membentuk kesatuan
pengetahuan yang terdokumentasi secara sistematis dalam bentuk literatur
akuntansi.
Akuntansi
sebagai kegiatan penyedia jasa mengisyaratkan bahwa akuntansi yang akhirnya
harus diterapkan untuk merancang dan menyediakan jasa berupa informasi keuangan
harus bermanfaat untuk kepentingan sosial dan ekonomik negara tempat akuntansi
diterapkan.
Sebagai
seperangkat pengetahuan, akuntansi didefenisikan sebagai: seperangkat
pengetahuan yang mempelajari perekayasaan penyediaan jasa berupa informasi keuangan
kuantitatif unit-unit organisasi dalam suatu lingkungan negara tertentu dan
cara penyampaian (pelaporan) informasi tersebut kepada pihak yang
berkepentingan untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ekonomik.
Dalam
artisempit sebagai proses, fungsi, atau praktik, akuntansi dapat didefenisiskan
sebagai: proses pengidentifikasian, pengesahan, pengukuran, pengakuan,
pengklasifikasian, penggabungan, peringkasan, dan penyajian data keuangan dasar (bahan olah akuntansi) yang
terjadi dari kejadian-kejadian, transaksi-transaksi, atau kegiatan operasi
suatu unit organisasi dengan cara
tertentu untuk mengahasilkan informasi yang relevan bagi pihak yang
berkepentingan.
TEORI AKUNTANSI SEBAGAI TEKNOLOGI
Teknologi
merupakan seperangkat pengetahuan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
dan pengertian teknologi tidak terbatas pada teknologi tidak terbatas pada
teknologi fisis (hard technology) tetapi juga teknologi lunak (soft
technology). Teknologi merupakan saranan untuk memecahkan masalah nyata dalam
lingkungan tertentu dan untuk mencapai tujuan tertentu. Teknologi digunakan
untuk mengendalikan variabel-variabel alam dan sosial untuk mencapai kehidupan
tertentu yang lebih baik. Karena akuntansi masuk dalam bidang pengetahuan
teknologi, akuntansi dapat didefenisikan sebagai “rekayasa informasi dan
pengendalian keuangan”.
TEORI AKUNTANSI SEBAGAI SAINS
Teori
adalah seperangkat konsep, defenisi, proporsi yang saling berkaitan secara
sistematis yang diajukan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena atau fakta.
Teori akan berisi pernyataan-pernyataan asumsi dan hipotesis. Proporsi adalah
pernyataan tentang hubungan teoritis konsep-konsep yang diteorikan. Konsep
adalah makna atau karakteristik yang berkaitan dengan kejadian, objek, kondisi,
atau perilaku. Suatu proposis misalnya berbunyi: “asas akrual lebih bermanfaat
dari pada asas tunai”. Dalam hal ini, “asas akrual” dan “asas tunai” merupakan
konsep sedangkan “lebih bermanfaat dari pada” merupakan hubungan teoritis
konsep-konsep tersebut. Agar menjadi teori yang kuat proposisi harus
dimungkinkan untuk diuji secara ilmiah dan didukung oleh apa yang naytanya
diamati (data empiris).
Sebagai
sains, kegiatan penjelajahan dan riset akuntansi lebih diarahkan untuk menguji
secara ilmiah teori-teori tersebut yang diajukan sebagai penjelasan fenomena
akuntansi, alam, atau sosial. Dari pengertian tersebut, tujuan teori adalah
menjelaskan dan memprediksi. Bila pengertian di atas diterapkan untuk
akuntansi, teori akuntansi sering dimaksudkan sebagai sains yang berdiri
sendiri yang menjadi sumber atau induk pengetahuan dan praktik akuntansi.
TEORI AKUNTANSI
SEBAGAI PENALARAN LOGIS
Teori
berusaha untuk memberikan pembenaran terhadap praktik agar praktik mempunyai
kekuatan untuk dapat di pertahankan atau dipertanggungjawabkan kelayakannya.
Penalaran logis berisi asumsi, dasar pikiran, konsep, dan argumen yang saling
berkaitan dan yang membentuk suatu rerangka pikir yang logis. Hasil proses
penalaran logis dapat dituangkan dalam bentuk dokumen yang berisi prinsip-prinsip
umu yang menjadi landasan umum untuk menetukan tindakan atau prakti yang
terabaik dalam mencapai suatu tujuan. Paton dan Littleton mengemukakan bahwa
tujuan teori akuntansi adalah menyediakan gagasan-gagasan mendasar yang menjadi
basis atau fundasi dalam proses perekayasaan pelaporan keuangan. Hasil
perekayasaan tersebut berupa seperangkat doktrin yang berkaitan secara logis,
terkoordinasi dan konsisten yang mempunyai fungsi sebagai landasan untuk
penurunan standar akuntansi.
Pengertian
Penalaran
Penalaran
adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi
suatu keyakinan terhadap suatu pernyataan atau asersi. Penalaran melibat
inferensi yaitu proses penurunan konsekuensi logis dan melibatkan pula proses
penarikan simpulan/ konklusi dari serangkaian pernyataan tau asersi.
Unsur dan
Struktur Penalaran
Struktur
dan proses penalaran dibangun atas dasar tiga konsep penting yaitu asersi,
keyakinan, dan argumen.
1. Asersi
Asersi adalah suatu pernyataan
(biasanya positif) yang menegaskan bahwa sesuatu (misalnya teori) adalah benar.
jenis asersi (pernyataan):
a.
Asumsi
Adalah asersi yang diyakini benar
meskipun orang tidak dapat mengajukan atau menunjukkan bukti tentang
kebenarannya secara meyakinkan atau asersi yang orang bersedia menerima sebagai
benar untuk keperluan diskusi atau debat.
b.
Hipotesis
Adalah asersi yang kebenarannya
belum atau tidak diketahui tetapi diyakini bahwa asersi tersebut dapat diuji
kebenarannya
c.
Pernyataan
fakta
Adalah asersi yang bukti tentang
kebenarannya diyakini sangat kuat atau bahkan tidak dapat dibantah
Fungsi asersi:
Asersi
dapat berfungsi sebagai premis dan konklusi. Premis adalah asersi yang
digunakan untuk mendukung suatu konklusi. Konklusi adalah asersi yang
diturunkan dari serangkaian asersi. Suatu argumen paling tidak berisi satu
premis dan satu konklusi.
2. Keyakinan
Keyakinan
adalah tingkat kebersediaan untuk menerima bahwa suatu pernyataan atau teori
(penjelasan) mengenai suatu fenomena atau gejala (alam atau sosial) adalah
benar.
Properitas Keyakinan
Berikut
properitas keyakinan yang perlu disadari dalam berargumen:
a.
Keadabenaran
b.
Bukan
pendapat
c.
Bertingkat
d.
Berbias
e.
Bermuatan
nilai
f.
Berkekuatan
g.
Veridikal
h.
Berketertempaan
3. Argumen
Argumen
adalah serangkaian asersi serta keterkaitan (artikulasi) dan inferensi atau
penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu keyakinan. Argumenmanjadi
unsur penting dalam penalaran karena digunakan untuk membentuk, memelihara,
atau mengubah suatu keyakinan.
Jenis Argumen:
a.
Argumen
deduktif
Adalah proses penyimpulan yang
berawal dari suatu pernyataan umum yang disepakati (premis) ke pernyatan khusus
sebagai simpulan (konklusi). Kriteria kebenaran deduktif yang terdiri atas:
kelengkapan, kejelasan, kesahihan, dan kepercayaan.
b.
Argumen
induktif
Penalaran ini berawal dari suatu
pernyataan atau keadaan yang khusus dan berakhir dengan pernyataan umum yang
merupakan generalisasi dari keadaan khusus tersebut.
PERSPEKTIF TEORI AKUNTANSI
Selain
perspektif (aspek) taksonomi yang membagi teori akuntansi menjadi penjelasan
ilmiah dan justifikasi, teori akuntansi juga sering dikelompokkan atas dasar
perspektif lain menurut tujuan atau penekanan pembahasan.
Aspek
Sasaran Teori
Aspek
sasaran ini mendasari perbedaan teori akuntansi menjadi teori akuntansi positif
dan normatif. Penjelasan positif berisi pernyataan tentang sesuatu (kejadian,
tindakan, atau perbuatan) seperti apa adanya sesuai dengan fakata atau apa yang
terjadi atas dasar pengamatan mepiris. Penjelasan positif diarahkan untuk
memberi jawaban apakah sesuatu pernyataan itu benar atau salah atas dasar
kriteria ilmiah. Penjelasan normatif berisi pernyaan dan penalaran untuk
menilai apakah sesuatu itu baik atau buruk atau relevan atau tak relevan dalam
kaitannya dengan kebijakan ekonomik atau sosial tertentu. Penjelasan normatif
di arahkan untuk mendukung atau menghasilkan kebijakan politik sehingga
bersifat pembuatan kebijakan.
Aspek
tataran semiotika
Semiotika
merupakan bidang kajian yang membahas teori umu tentang tanda-tanda (signs) dan
simbol-simbol dalam bidang linguistika. Tiga tataran (level) semiotika yaitu
sintaktika, semantika, dan pragmatika.
1.
Sintaktika
Menelaah logika dan kaidah bahasa
yaitu hubungan logis diantara tanda-tanda atau simbol-simbol bahasa.
2.
Semantika
Menelaah hubungan antara tanda
atau simbol dan dunia kenyataan (fakta) yang disimbolkannya.
3.
Pragmatika
Membahas dan menguji apakah
komunikasi efektif dengan mempelajari ada tidaknya perubahan perilaku penerima.
Aspek
Pendekatan Penalaran
Telah
disebut sebelumnya bahwa teori akuntansi dapat diartiakn sebagai penelaran
logisyang memberikan penjelasan dan alasan tentang perlakuan akuntansi
tertentu. Penalaran mempunyai peran penting dalam rangka menerima atau menolak
kebenaran (validitas) suatu teori. Proses penyimpulan yang menghasilkan
pernyataan atau penjelasan sebagai teori dapat bersifat deduktif maupun
induktif.
KONSEP DASAR
PENGERTIAN
Konsep
dasar pada umumnya merupakan abstraksi atau konseptualisasi karakteristik
lingkungan tempat atau wilayah diterapkannya pelaporan keuangan.
SUMBER KONSEP DASAR
Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI)
IAI
mengadopsi rerangka konseptual IASC sehingga konsep dasar yang dipilih juga
mengikuti IASC. Ada dua konsep dasar (dinamakan asumsi pelandas) yang disebut
secara spesifik dalam rerangka konseptual IASC. Konsep dasar tersebut adalah:
1.
Basis
akrual
2.
Usaha
berlanjut
Paul Grady
Grady
mendeskripsi konsep dasar sebagai konsep yang mendasari kualitas kebermanfaatan
dan keterandalan informasi akuntansi atau sebagai keterbatasan yang melekat
pada statement keuangan. Kesepuluh konsep dasar tersebut adalah:
1.
Strutur
masyarakat dan pemerintah yang mengakui hak milik pribadi
2.
Entitas
bisnis spesifik
3.
Usaha
berlanjut
4.
Penyimbolan
secara moneter dalam seperangkat akun
5.
Konsistensi
antara perioda untuk entitas yang sama
6.
Keanekaragaman
perlakuan akuntansi di antara entitas independen
7.
Konservatisma
8.
Keterandalan
data melalui pengendalian internal
9.
Materialistis
10. Ketepatwaktuan dalam
pelaporan keuangan memerlukan taksiran
Accounting
Principles Board
APB memngidentifikasi tiga belas
konsep dasar yang merupakan karakteristik lingkungan diterapkannya akuntansi
yaitu:
1.
Entitas
akuntansi
2.
Usaha
berlanjut
3.
Pengukuran
sumber ekonomik dankewajiban
4.
Perioda-perioda
waktu
5.
Pengukuran
dalam unit uang
6.
Akrual
7.
Harga
pertuakaran
8.
Angka
pendekatan
9.
Pertimbangan
10. Informasi keuangan umum
11. Statement keuangan
berkaitan secara mendasar
12. Substansi dari pada
bentuk
13. Materialitas
Walk,
Tearney, dan Dodd
Walk
dan Tearney mendaftar empat konsep yang dianggap sebagai postulat dan beberapa
konsep lain sebagai prinsip berorientasi masukan. Keempat konsep yang
dikategori sebagaipostulat adalah:
1.
Usaha
berlanjut
2.
Perioda
waktu
3.
Entitas
akuntansi
4.
Unit
moneter
Anthony,
Hawkins, dan Merchant
Penulis
ini mendaftarsebelas konsep ini yang dijadikan basis dalam membahas isi,
bentuk, susunan, dan arti penting statement keuangan.
1.
Pengukuran
dengan unit uang
2.
Entitas
3.
Usaha
berlanjut
4.
Kos
5.
Aspek
ganda
6.
Perioda
akuntansi
7.
Konservatisma
8.
Realisasi
9.
Penandingan
10. Konsistensi
11. Meterialitas
KONSEP DASAR PATTON DAN LITTLETON
Seperangkat
konsep dasar yang dikemukakan Patton dan Littleton (1970) merupakan
konsep-konsep dasar yang dikenalkan sebelumsumber-sumber yang disebut
sebelumnya.
1. Entitas Bisnis atau Kesatuan Usaha
Konsep
ini menyatakan bahwa perusahaan dianggap sebagai suatu kesatuan atau badan
usaha ekonomik yang berdiri sendiri, bertindak atas namanya sendiri dan
kedudukannya terpisah dari pemilik atau pihak lain yang menanamkan dana dalam
perusahaan dan kesatuan ekonomik tersebut menjadi pusat perhatian atau sudut
pandang akuntansi.
Implikasi Kesatuan Usaha
a.
Batas
kesatuan
Akuntansi memperlakukan badan
usaha sebagai kesatuan ekonomik dari pada kestua yuridis. Batas kestuan
ekonomik adalah kendali (Control) oleh suatu manajemen.
b.
Pengertian
ekuitas
Secarakonseptual ekuitas atau
modal merupakan utang atau kewajiban perusahaan kepada pemilik. Hal ini
berlawanan dengan pendefenisian secara struktural bahwa akuitas adalah residual
pemilik terhadap aset bersih sebagaimana didefenisi dalam rerangka konseptual
FASB.
c.
Pengertian
pendapatan
Denagn konsep kesatuan usaha,
semua sumber ekonomik yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan merupakan
aset perusahaan bukan aset pemilik. Kalau ada aliran aset masuk (misalnya kas)
yang terjadi karena perusahaan menjual barang atau menyerahkan jasa maka aset
perusahaan akan bertambah. Kas masuk itulah yang disebut pendapatan.
d.
Pengertian
biaya
Biaya sebagai penurunan aset atau
timbulnya kewajiban dapat dijelaskan dengan konsep kesatuan usaha. Penyerahan
produk dalam rangka menciptakan pendapatan menyebabkan aset (sediaan barang)
berkurang. Berkurangnya aset (sebesar kos barang terjual) inilah yang disebut
biaya.
e.
Sistem
berpasangan
Hubungan bisnis antara manajemen
dan pemilim mengakibatkan manajemen harus selalu mempertanggungjawabkan aset
yang dikelolanya dan sumber aset tersebut. Ini berarti bahwa pengaruh transaksi
terhadap hubungan bisnis dan posisi keuangan harus selalu ditunjukkkan. Untuk
melaksanakan hal ini dengan mudah dan nyaman, digunakanlah sistem berpasangan.
f.
Persamaan
akuntansi
Konsep kesatuan usaha memisahkan
manajemen dengan penyedia dana dan manajemen bertanggungjawab kepada mereka.
Pertanggungjelasan menuntut agar aset yang dipercayakan kepada manajemen selalu
ditunjukkan sumber atau asalnya. Pelaporan keuangan harus menunjukkan hubungan
ini. Hubungan fungsional inilah yang disebut persamaan akuntansi.
g.
Artikulasi
Dengan artikulasi, akan selalu
dapat ditunjukkan bahwa laba dalam statement laba-rugi akan sama dengan laba
dalam statement perubahan ekuitas dan jumlah rupiah ekuitas akhir dalam
statement perubahan ekuitas akan sama dengan jumlah rupiah ekuitas dalam
neraca.
2. Kontinuitas usaha
Konsep
ini akan menjadi pertimbangan pada saat penyusunan statement keuangan atau pada
saat akuntansi mengahadapi berbagai pilihan dalam proses perekayasaan atau
penyusunan standar karena kenyataan bahwa kelangsungan hidup perusahaan di masa
datang tidak pasti
Implikasi Konsep kontinuitas usaha
a.
Arti
penting laporan periodik
Pelaporan keuangan lebih
berkepentingan dengan daya melaba perusahaan. Untuk suatu perioda, tingkat
mendapatkan laba dengan tingkat sumber ekonomik tertentu disebut dengan tingkat
imbalan investasi. Tingkat imbalan tersebut dapat diukur secara periodik. Daya
melaba adalah rata-rata dalam jangka panjang tingkat imbalan periodik tersebut.
b.
Keduduka
statement laba-rugi
Karena daya melaba jangka panjang
menjadi perhatian, fluktuasi laba antar perioda yang disebabkan kejadian atau
kondisi istimewa suatu perioda harus dilaporkan seperti apa adanya pada periode
tersebut bukan langsung dilaporkan dalam perubaha ekuitas. Jadi, penyusunan
statement laba-rugi dan laba komprehensif sebenarnya dilandasi oleh konsep
kuntinuitas usaha ini.
c.
Fungsi
neraca dan penilaian elemennya
Konsep kontinuitas usaha sangat
besar peranannya dalam mendasari penilaian elemen atau pos neraca dan
interpretasi jumlah rupiah yang dimuat di dalamnya. Dengan konsep kontinuitas
usaha, tujuan pelaporan pos neraca adalah untuk menunjukkan sisa potensi jasa
atau sumber-sumber ekonomik yang belum dikonsumsi dalam tahun yangberakhir pada
tanggal neraca.
3. Penghargaan sepakatan
Konsep
ini menyatakan bahwa jumlah rupiah/ agregat-harga atau penghargaan sepakatan
yang terlibat dalam tiap transaksi atau kegiatan pertukaran merupakan bahan
oleh dasar akuntansi yang paling objektif terutama dalam mengukur sumber
ekonomik yang masuk (pendapatan) dan sumber ekonomik yang keluar (biaya).
Sebagai konsekuensi, elemen-elemen atau pos-pos pelaporan keuangan diukur atas
dasar penghargaan sepakatan tersebut.
a.
Istilah
yang tepat
Penghargaan sepakatan dalam suatu
pertukaran merupakan istilah yang mengandung makna adanya penilaian bersama
antara pembeli dan penjual. Istilah penghargaan sepakatan/ agregat-harga cukup
memadai untuk mencakupi pandangan dari kedua pihak tersebut.
b.
Jasa
di balik kos
Dari segi akuntansi sebenarnya
bukan uang atau harga itu sendiri yang mempunyai arti penting melainkan justru
potensi jasa yang ada dibalik angka koslah yang mempunyai arti penting.
c.
Keterbatasaninformasi
akuntansi
Informasi akuntansi hanya
merupakan sebagian dari informasi ayng mungkin dibutuhkan untuk pengambilan
keputusan oelh pihak eksternal dan manajemen.
4. Kos melekat
Konsep
ini menyatakan bahwa kos melekat pada objek yang direpresentasinya sehingga kos
bersfat mudah bergerak dan dapat dipecah-pecah atau digabung-gabungkan kembali
mengikuti objek yang dilekatinya.
a.
Saat
pengakuan nilai tambah
Konsep dasar kos melekat
diperlukan karena dalam mengikuti aliran fisis tersebut harus ada anggapan
bahwa tiap kos mempunyai daya saling mengikat bial digabungkan dengan kos lain
secara tepat. Konsep dasar ini mempunyai dasar implikasipenting terhadap saat
pengakuan tambahan manfaat produk fisis yang dihasilkannya.
b.
Wadah
penggabungan
Dalam mengikuti aliran fisis
produksi, kos di pecah, dikelompokkan, dan kemudian digabung kembali mengikuti
unit fisis produk. Ini berarti bahwa kos digabungkan dengan produk sebagai
wadah atau penakar penggabungan.
5. Upaya dan
hasil
Konsep
ini menyatakan bahwa baiya merupakan upaya dalam rangka memperoleh hasil berupa
pendapatan. Denagn kata lain, tidak ada hasil (pendapatan) tanoa upaya (biaya).
Konsep ini mempunyai beberapa implikasi:
a.
Perlunya
basis asosiasi
Ukuran keefektifan akan tepat
apabila hasil ditandingkan dengan upaya yang menimbulakan hasil tersebut.
Diperlukanlah dasar asosiasi yang tepat dan rasional antara kedau komponen
tersebut agar laba mempunyai makna atau nilai sebagai pengukur kinrja yang
terandalkan.
b.
Penakar
asosiasi ideal dan praktis
Penakar yang dimaksud di sini
tidak lain adalah dasar atau wadah penandingan antara biaya dan pendapatan.
Penakar yang palingcocok adalah penakar yang dapat menunjukkan secara tepat dan
objektif bahwa biaya yang masuk dalam
penakar adalah biaya yang benar-benar menyebabkan timbulnya pendapatan yang
masuk dalam penakar tersebut.
c.
Laba
akuntansi versus ekonomi
Karena perbedaan konsep dasar,
pengertian dan tujuan, laba akuntansi dapat berbeda maknanya dengan laba
ekonomik atau laba material yang sering digunakan dalam ekonomika atau
perpajakan. Namun demikian akuntansi juga mengupayakan agar laba akuntansi
sedapat-dapatnya merupakan representasi atau proksi labaekonomik.
d.
Kos
aktual
Dalam menandingkan upaya dengan
hasi, akuntansi hanyalah menandingkan upaya yang benar-benar telah dialakukan
oleh suatu kesatuan usaha sehungga laba yang diperoleh adalah selisih biaya dan
pendapatan yang diukur dengan kos yang sesungguhnya terjadi.
e.
Asas
akrual atau himpun
Asas akrual adalah asas dalam
pengakuan pendapatan dan biaya yang menyatakan bahwa pendapatan di akui pada
saat hak kesatuan usaha timbul lantaran penyerahan barang atau jasa ke pihak
luar dan biaya diakui pada saat kewajiban timbul lantaran penggunaan sumber
ekonomik yang melekat pada barang dan jasa yang diserahkan tersebut. Sebagai
konsekuensi saat ini, akuntansi mengakui pos-pos akrual dan tangguhan.
Penghimpunan atau pengerat hubungannya denganproses penandingan.
f.
Pengertian
depresiasi
Depresiasi adalah biaya nyata
bukan hipotetis. Depresiasi harus diperhitungkan dan diakui sebagai biaya
karena jasa yang diberikan oleh aset tetap tidak terjadi sekaligus pada saat
pemerolehan atau pemberhentian aset tersebut.
g.
Kapasitas
menganggur
Memisahkan dalam laporan
laba-rugi bagian depresiasi tahun berjalan yang merepresentasi kapasitas
menganggur.
h.
Pos-pos
luar biasa
Perbedaan penyebab terjadinya
laba atau rugi hanya mengisyaratkan bahwa pemisahan dan penje;lasan yang cukup
diperlukan. Perbedaan tersebut tidak mengisyaratkan bahwa pengaruh untung
nonoperasi berbeda dengan pengaruh pos-pos pendapatan lainnya terhadap kenaikan
aset atau sebaliknya bahwa pengaruh rugi nonoperasi berbeda denagn pengaruh
pos-pos biaya lainnya terhadap penurunan aset.
6. Bukti terverifikasi dan objektif
Konsep
ini menyatakan bahwa informasi keuangan akan mempunyai tingkat kebermanfaatan
dan tingkat keterandalan yang cukup tinggi apabila terjadinya data keuangan
didukung oleh bukti-bukti yang objektif dan dapat diuji kebenarannya
(keabsahannya/ keautentikannya).
a.
Arti
penting untuk pengauditan
Disamping penting karena membantu
pencapaian karakteristik kualitatif informasi yang tinggi, konsep bukti yang
dapat diuji kebenarannya dan objektif itu menjadi penting dalam kaitannya
dengan pengauditan untuk menentukan kewajaran sistemstatment keuangan.
b.
Objektifitas
relatif
Akuntansi bukan ilmu pasti
sehingga objektifitas bukti dalam akuntansi bersifat relaatif.
c.
Objektifitas
dan keterverifikasian jangka panjang
Bukti yang paling kuat dan paling
diinginkan adalah bukti yang sepenuhnya objektif. Konsep dasar bukti
terverifikasi dan objektif dalam akuntansi emngandung elemen variabilitas
sehingga tiap bukti mempunyai tingkat objektivitas
7. Asumsi
Berikut
ini adalah beberapa contoh asumsi yang menjadi landasan penalaran dalam memilih
konsep yang relevan:
a.
Kontinuitas
usaha
Konsep ini hanya dapat dibenarkan
atas dasar pengalaman perusahan pada umumnya.
b.
Perioda
satu tahun
Untuk tujuan “penakaran” terhadap
pendapatan dan biaya yang menghasilkan pendapatan tersebut, interval waktu yang
biasanya digunakan adalah satu tahun baik tahun kalender atau pun tahun buku/
fiskal.
c.
Kos
sebagai bahan olah
Penghargaan sepakatan yang
menjadi bahan oleh akuntansi didasarkan atas asumsi bahwa kos faktor produksi
yang diperoleh perusahaan menunjukkan nialai wajar pada saat terjadinya.
d.
Daya
beli uang stabil
Konsep bahwa jumlah rupiah yang
tercatat akan tetap menunjukkan nilai landasi asumsi bahwa daya beli uang
adalah stabil sepanjang masa.
e.
Tujuan
mencari laba
Konsep pendapatan dan biaya
sebagai aliran jumlah rupiah yang ditandingkan sebnarnya mengandung asumsi
bahwa pendapatan adalah objekyang dituju oleh upaya yang diukur dengan kos.
Denagn kata lain, perusahaan dipandang sebagai suatu organisasi yang dibentuk
untuk menghasilkan laba.
f.
Konsep
dasar lain
o
Substansi
dari pada bentuk
o
Pengakuan
hak milik pribadi
o
Keanekaragaman
akuntansi antar entitas
o
Konservatisma
o
Pengendali
internal menjamin keterandalan data
ASET
A. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK ASET
Aset
merupakan elemen neraca yang akan membentuk informasi semantik berupa posisi
keuangan bila dihubungkan dengan elemen yang lain yaitu kewajiban dan ekuitas.
FASB (Financial Accounting Standan Board)
mendefenisikan aset dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut (SFAC No 6,
prg.25):
Assets are
probable future economic benefit obtained or controlled by a particular entity
as a result of past transactions or event
(Aset adalah manfaat
ekonomi masa datang yang cukup pasti yang diperoleh atau dikuasai/ dikendalikan
oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu).
Defenisi
FASB dan AASB cukup luas dibanding defenisi yang lain karena aset disifati
sebagai manfaat ekonomik dan bukan sebagai sumber ekonomik, karena manfaat
ekonomik tidak membatasi bentuk atau jenis sumber ekonomik yang dapat
dimasukkan sebagai aset. APB dan Ijiri mendefenisi aset sebagai sumber ekonomik
karena adanya unsur kelangkaan sehingga suatu entitas harus mengendalikannya
dari akses pihak lain melalui transaksi ekonomik. APB juga mambedakan aset
menjadi sumber ekonomik dan non sumber ekonomik. APB No. 4 merinci aset yang
digolongkan sebagai sumber ekonomik sebagai berikut (prg, 57):
1. Sumber
produktif
a. Sumber
produktif kesatuan usaha yang meliputi bahan baku, gedung, pabrik,
perlengkapan, sumber alam, paten, dan semacamnya, jasa dan sumber lain yang
digunakan dalam produksi barang dan jasa.
b. Hak
kontraktual tau sumber produktif meliputi semua hak untuk menggunakan sumber
ekonomik pihak lain dan hak untuk mendapatkan barang atau jasa dari pihak lain.
2. Produk
yang merupakan keluaran kesatuan usaha terdiri atas:
a. Barang
jadi yang menunggu penjualan
b. Barang
dalam proses
3. Uang
4. Klaim
untuk menerima uang
5. Hak
pemilikan atau investasi pada perusahaan lain
Dengan
jenis aset yang disebut APB di atas, APB secara implisit menetapkan pengerian
aset sebagai sesuatu yang nyata-nyata dapat digunakan dalam kegiatan produktif
(penyediaan barang dan jasa).
Karakteristik Utama
a. Manfaat
ekonomik
>>Mengandung
manfaat ekonomik dimasa datang yang cukup pasti (probable). Manfaat tersebut
terukur dan dapat dikaitkan dengan kemampuannya untuk mendatangkan pendapatan
atau aliran kas di masa datang. FASB menyatakan bahwa aset adalah sumber
ekonomik karena potensi jasa atau utilitas yang melekat didalamnya adalah suatu
daya yang dapat dimanfaatkan oleh kesatuan usaha dalam upaya untuk mendatangkan
pendapatan melalui kegiatan ekonomikk yaitu kunsumsi, produksi, dan pertukaran.
Uang atau kas mempunyai manfaat atau potensi jasa karena daya tukarnya. Sumber
selain kas mempunyai manfaat ekonomik karena dapat ditukarkan dengan kas,
barang , atau jasa, karena dapat digunakan untuk memproduksi barang dan jasa,
atau karena dapat digunakan untuk melunasi kewajiban.
b. Dikuasai
Oleh Entitas
>>
Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek atau pos tidak harus dimiliki
oleh entitas tetapi cukup dikuasai oleh entitas. Artinya, untuk memiliki suatu
objek diperlukan proses yang disebut transfer hak milik.
c. Akibat
Transaksi atau Kejadian Masa Lalu
>>
Kriteria ini sebenarnya menyempurnakan kriteria penguasaan dan sekaligus
sebagai kriteria atau tes pertama kemampuan objek sebagai aset tetapi tidak
cukup untuk mengakui secara resmi dalam sistem pembukuan.
Karakteristik Pendukung
a. Melibatkan
kos
>>
pemerolehan aset pada umumnya melibatkan kos ( pengeluaran sumber ekomomik
misalnya kas ) sebagai penghargaan sepakatan. Bila kos terjadi karena
pemerolehan suatu objek terjadi akibat pertukaran atau pembelian, objek
tersebut lebih kuat untuk masuk sebagai aset. Akan tetapi, tiadanya kos tidak
membatalkan suatu objek sebagai aset.
b. Berwujud
>>
bila suatu sumber ekonomik secara khusus dapat diamati maka lebih kuat untuk
disebut sebagai aset. Akan tetapi keterwujudan bukan kriteria untuk mendefinisi
aset. Objek2 seperti hak paten, hak cipta, merek dagang, dan goodwill tetap
dapat dimasukkan sebagai aset meskipun tidak berwujud persis. Pos-pos tak
berwujud yang masuk dalam kategori aset lancar tidak disebut sebagai aset tak
berwujud.
c. Tertukarkan
>>
untuk memenuhi syarat sebagai aset, suatu sumber ekonomik harus dapat
ditukarkan dengan sumber ekonomik lainnya.
d. Terpisahkan
>>
untuk dapat ditukarkan suatu sumbber ekonomik harus dapat dipisahkan dengan
sumber ekonimik yang lain atau berdiri sendiri.
e. Berkekuatan
hukum
>>
kemampuan suatu entitas untuk menguasai manfaat ekonomik timbul akibat hak-hak
hukum.
B. PENGERTIAN, PENGUKURAN, PENGAKUAN, PENYAJIAN DAN
PENGUNGKAPAN
1. Persediaan
(IAS 2/PSAK No. 14)
Pengertian
PSAK 14
(revisi 2008) mendefenisikan persediaan
sebagai asset yang;
a.
Tersedia untuk
dijual dalam kegiatan usaha biasa
b.
Dalam proses
produksi untuk penjualan tersebut
c.
Dalam bentuk
bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian
jasa
Pengukuran
Persediaan
PSAK 14 (revisi) menyatakan bahwa persediaan diukur
berdasarkan biaya atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah. Biaya
persediaan meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang
timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.
o Biaya pembelian
Persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak
lainnya (kecuali yang kemudian dapat ditagihkan kembali kepada otoritas pajak),
biaya pengangkutan, biaya penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung
dapat di atribusikan pada perolehan barang jadi, bahan, dan jasa. Diskon
dagang, rabat, dan hal lainnya yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya
pembelian.
o Biaya konversi
Merupakan biaya yang timbul untuk memproduksi bahan
baku menjadi barang jadi atau barang dalam produksi. Biaya ini meliputi biaya
yang secara langsung terkait dengan unit yang diproduksi, termasuk juga alokasi
sistematis biaya overhead produksi yang bersifat tetap ataupun variable yang
timbul dalam mengonversi bahan menjadi barang jadi.
o Biaya lainnya
Biaya lain yang dapat dibebankan sebagai biaya
persediaan adalah biaya yang timbul agar persedian tersebut berada dalam
kondisi dan lokasi saat ini.
Metode identifikasi khusus: suatu entitas harus mengidentifikasikan barang yang
dijual dengan tiap jenis dalam persediaan secara spesifik.
Metode biaya masuk pertama keluar pertama atau first in
first out (FIFO) : mengasumsikan unit persediaan yang pertama dibeli akan
dijual atau digunakan terlebih dahulu.
Metode rata-rata tertimbang: dengan menggunakan biaya setiap unit berdasarkan
biaya rata-rata tertimbang dari unit yang serupa pada awal periode dan biaya
unit serupa yang diproduksi selama suatu periode.
Penyajian dan Pengungkapan
Terkait
dengan persediaan, maka dalam penyajiannya pada laporan keuangan suatu entitas
harus mengungkapkan beberapa hal sebagai berikut:
o Kabijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran
persediaan, termasuk rumus biaya yang digunakan.
o Total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai
tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi entitas
o Jumlah tercatat persediaan yang dicatat dengan nialai
wajar dikurangi biaya untuk menjual.
o Jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama
periode berjalan
o Jumlah setiap penurunan nilai yang diakui sebagai
pengurangan jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan.
o Jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan
nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban
dalam periode berjalan
o Kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan
nilai persediaan yang diturunkan.
o Nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai
jaminan kewajiban.
2. Properti,
Pabrik, dan Peralatan (IAS 16/ PSAK 16)
ASET TETAP (PSAK NO. 16)
Defenisi:
Asset tetap
adalah asset berwujud yang;
o Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau
penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk
tujuan administrative; dan
o Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu
periode
Berdasarkan defenisi diatas terdapat beberapa hal
penting terkait asset tetap, yaitu:
o Asset tetap adalah asset berwujud, yaitu mempunyai
bentuk fisik (seperti tanah, bangunan).
o Mempunyai tujuan penggunaan khusus, yaitu digunakan
dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak
lain, atau untuk tujuan administrative.
o Asset tetap termasuk kedalam asset tidak lancer,
karena diharapkan akan digunakan untuk lebih dari satu periode akuntansi.
Pengukuran
Pengukuran
awal: Suatu asset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk
diakui sebagai asset pada awalnya harus diukur sebesar biaya perolehan. Biaya
perolehan asset tetap meliputi:
o Harga perolehan, termasuk bea impor dan pajak
pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan
potongan-potongan lain.
o Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung
untuk membawa asset kelokasi dan kondisi yang diinginkan agar asset siap
digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud
manajemen.
o Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan asset
tetap dan restorasi lokasi asset.
Pengukuran
setelahnya: setelah pengakuan awal entitas
harus memilih model biaya atau model revaluasi sebagai kebijakan akuntansinya.
Model biaya: setelah diakui sebagai asset maka suatu asset tetap
dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi
rugi penurunan nilai asset.
Model
revaluasi: setelah diakui sebagai
asset, suatu asset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal harus
dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi
dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi
setelah tanggal revaluasi.
Pengakuan
Sebagaimana pengakuan untuk asset lainnya, biaya
perolehan asset tetap harus diakui sebagai asset jika dan hanya jika:
a.
Besar
kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan asset tersebut akan
mengalir ke entitas; dan
b.
Biaya perolehan
asset dapat diukur secara handal
Ini merupakan prinsip pengakuan umum untuk asset
tetap. Prinsip ini diterapkan pada saat pengakuan awal asset, pada saat ada
bagian tertentu dari asset yang diganti, dan jika ada pengeluaran tertentu yang
terjadi terkait dengan asset tersebut selama masa manfaatnya. Jika pengeluaran
tersebut menimbulkan manfaat ekonomis di masa depan, maka dapat diakui sebagai
asset.
Penyajian
dan pengungkapan
Laporan keuangan mengungkapkan, untuk setiap kelompok
asset tetap, antara lain:
a.
Dasar pengukuran
yang digunakan dalam menentukan jumlah tercatat bruto
b.
Metode
penyusutan yang digunakan
c.
Umur manfaat
atau tariff penyusutan yang digunakan
d.
Jumlah tercatat
bruto dan akmulasi penyusutan pada awal dan akhir periode
e.
Rekonsiliasi
jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkkan
o Penambahan
o Asset yang diklasifikasikan sebagi tersedia untuk
dijual
o Akuisisi melalui penggabungan usaha
o Peningkatan atau penurunan akibat revaluasi serta dari
rugi penurunan nilai yang diakui atau di jurnl pembalik secara langsung pada
ekuitas sesuai PSAK 48
o Rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba
rugi komprehensif sesuai PSAK 48
o Rugi penurunan nilai yang dii jurnal pembalik dalam
laporan laba rugi komprehensif
o Penyusutan
o Selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran
laporan keuangan dari mata uang fungsional menjadi mata unag pelaporan yang
berbeda, termasuk penjanbaran dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang
pelaporan dari entitas pelapor
o Perubahan lain.
PROPERTI INVESTASI
Defenisi
Menurut
PSAK 13 (revisi 2007), property investasi adalah property (tanah atau bangunan
atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya) yang dikuasai (oleh pemilik
atau lessee/ penyewa melalui sewa pembiayaan) untuk menghasilkan rental atau
untuk kenaikan nilai atau kedua-duanya, dan tidak untuk:
o Digunakan dalam produksi atau penyediaana baarang atau
jasa atau untuk tujuan administrative
o Dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari
Pengukuran
property investasi
Pengukuran
awal, property investasi yang memenuhi kualifikasi untuk
diakui sebagai asset harus diukur sebesar biaya perolehan. Jika entitas
memperoleh property investasi dengan cara kredit dan pembayaran untuk asset
melampaui jangka waktu kredit normal, maka perbedaan antara total pembayaran
dengan nilai tunainya diakui sebagai beban bunga selama periode kredit (kecuali
memenuhi kriteria untuk dikapitalisasi sesuai PSAK 26 biaya pinjaman). Jika
perolehan melalui pertukaran, maka biaya perolehan diukur pada nilai wajar
kecuali:
o Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi
komersial
o Nilai wajar dari asset yang diterima dan diserahkan
tidak dapat diukur secara andal.
Jika asset yang diperoleh tersebut tidak dapat diukur
dengan nilai wajar, maka biaya perolehan property investasi diukur dengan
jumlah tercatat dari asset yang diserahkan.
Pengukuran
setelah perolehan, entitas harus
memilih model nilai wajar atau model biaya sebagai kebijakan akuntansi untuk
pengukuran setelah perolehan. Model yang dipilih tersebut harus diterapkan pada
seluruh propertiinvestasinya.
Model biaya:
dicatat sebesar biaya perolehandikurangi akumulasi
penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai asset. Perhhitungan penyusutan
sama dengan asset tetap.
Model
nialai wajar: diterapkan untuk
seluruh property investasi, kecuali dalamkondisi tertentu. Selisih yang timbul
dari penyesuaian ke nilai wajar langsung diakui dalam laporan laba rugi
komprehensif dan tidak dilakukan penghitungan penyusutan apabila entitas
memilih menggunakan niali wajar.
Penyajian
dan pengungkapan
Property investasi disajikan sebagaai bagian dari
asset tidak lancer di dalam laporan posisi keuangan (neraca).
Entitas mengungkapkan antara lain:
a.
Apakan entitas
tersebut menerapkan model nilai wajar atau model biaya
b.
Jika menerapkan
model nilai wajar, apakah, dan dalam keadaan bagaimana, hak atas property yang
dikuasai dengan cara sewa operasi diklasifikasikan dan dicatat sebagai property
investasi.
c.
Apabila
pengklasifikasian ini sulit dilakukan, kriteria yang digunakan untuk membedakan
property investasi dengan property yang digunakan sendiri dan dengan property
yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.
d.
Metode dan
asumsi signifikansi yang diterapkan dalam menentukan niali wajar dari property
investasi
e.
Sejauh mana
penentuan niali wajar property investasi didasarkan atas penilaian oleh penilai
independen yang diakui dan memiliki kualifikasi professional yang relevan serta
memiliki pengalamam mutakhir dilokasi dan kategori investasi yang dinilai. Apabila
tidak ada penilaian seperti itu, hal tersebut harus di ungkapkan.
f.
Jumlah yang
diakui dalam laporan laba rugi komprehensif untuk:
o Penghasilan rental dari property investasi
o Beban operasi langsung (mencakup perbaikan dan
pemeliharaan) yang timbul dari property investasi yang menghasilkan penghasilan
rental selama periode tersebut.
o Beban operasi langsung (mencakup perbaikan dan
pemeliharaan) yang timbul dari property investasi yang tidak mengahasilkan
pendapatan rental selama periode tersebut.
o Perubahan kumulatif dalam nilai wajar yang diakui
dalam laporan laba rugi komprenhensif atas penjualan property investasi dari
sekelompok asset yang mana model biaya digunkanan kedalam kelompok yang
menggunakan model nilai wajar.
o Eksistensi dan jumlah pembatasan atas realisasi dari
property investasi atau pembayaran penghasilan dan hasil pelepasan.
o Kewajiban kontraktual untuk membeli, membangun atau
mengembangkan property investasi untuk perbaikan, pemeliharaan atau
peningkatan.
3. Penurunan Nilai Aset
(IAS36/PSAK 48 )
A.
Pengertian Penurunan Nilai
Penurunan
nilai aset menyatakan bahwa pada setiap akhir periode pelaporan, suatu entitas
harus menilai apakah terdapat indikasi suatu aset mengalami penurunan nilai.
Dalam menilai apakah terdapat indikasi bahwa kemungkinan aset mengalami
penurunan nlai, entitas harus mempertimbangkan minimum hal-hal sebagai berikut.
Informasi
dari sumber-sumber eksternal, antara
lain :
1. Selama
periode tertentu, nilai pasar aset telah menurun secara signifikan melebihi
pemakaian normal.
2. Perubahan
signifikan dalam hal teknologi, pasar, ekonomi atau lingkup hukum tempat
entitas beroperasi atau tempat aset dikaryakan , yang berdampak merugikan
entitas, telah terjadi selama periode tersebut, atau akan terjadi dalam waktu
dekat.
3. Suku
bunga pasar atau tingkat imbalan pasar dari investasi telah meningkat selama
periode tersebut dan kenaikan tersebut mungkin akan mempengaruhi tingkat
diskonto yang digunakan dalam menghitung nilai pakai aset dan menurunkan nilai
terpulihkan aset secara material.
4. Jumlah
tercatat aset neto entitas melebihi kapitalisasi pasarnya.
Informasi
dari sumber-sumber internal, antara
lain :
1. Terdapat
bukti mengenai keusangan atau kerusakan fisik aset.
2. Telah
terjadi atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan yang berdampak
merugikan.
3. Terdapat
bukti dari pelaporan internal yang mengindikasikan bahwa kinerja ekonomi aset
lebih buruk atau akan lebih buruk dari yang diharapkan.
4. Untuk
suatu investasi dalam entitas anak, entitas asosiasi dan pengendalian bersama
entitas yang sdisajikan dalam laporan keuangan terpisah berdasarkan metode
biaya, investor mengakui deviden dari investasi dan terdapat bukti bahwa
deviden melebihi total laba komprehensif entitas anak dan entitas yang
dikendalikan bersama dalam periode deviden diumumkan.
Daftar
indikasi penurunan nilai diatas tidak dimaksudkan untuk mencakup seluruh
indikasi. Entitas mungkin mengindikasi indikasi-indikasi lainnya bahwa suatu
aset mungkin mengalami penurunan nilai.
Terlepas
apakah terdapat indikasi penurunan nilai, entitas juga harus melakukan hal
berikut.
1. Menguji
penurunan nilai aset tak berwujud dengan masa manfaat tidak terbatas atau aset
tak berwujud yang belum dapat digunakan , secara tahunan, terlepas apakah
terdapat indikasi penurunan nilai, dengan membandingkan nilai tercatatnya
dengan jumlah terpulihkannya.
2.
Menguji penurunan nilai
goodwill yang diperoleh dalam suatu
kombinasi bisnis secara tahunan. Setiap perusahaan harus melakukan pengujian
penurunan nilai untuk goodwill. Apabila
terdapat penurunan nilai perusahaan harus mencatat impairment loss on goodwill.
B.
Pengukuran Penurunan Nilai
Setelah
suatu entitas mengevaluasi adanya indikasi penurunan nilai, dan ternyata
menemukan adanya indikasi penurunan nilai maka harus melakukan pengujian atas
penurunan nilai. Pengujian tersebut dilakukan dengan membandingkan antara
jumlah tercatat dari aset dengan jumlah terpulihkannya. Apabila jumlah tercatat
lebih tinggi dari jumlah terpulihkan, maka selisih antara keduanya diakui
sebagai rugi penurunan nilai dan nilai tercatat aset diturunkan menjadi sebesar
jumlah terpulihkan tersebut. Apabila jumlah tercatatnya lebih rendah dari
jumlah terpulihkan, maka tidak terdapat penurunan nilai.
Apabila
terdapat indikasi penurunan nilai, maka entitas diharuskan membuat estimasi
formal jumlah terpulihkan. Jumlah
terpulihkan merupakan jumlah yang lebih tinggi antara nilai wajar aset atau
unit penghasil kas dikurangi biaya penjualan dengan nilai pakainya. Nilai wajar dikurangi biaya penjualan
adalah jumlah yang dapat dihasilkan dari penjualan suatu aset atau unit
penghasil kas dalam transaksi antara pihak-pihak yang mengerti dan berkehendak
bebas tanpa tekanan, dikurangi biaya pelepassan aset. Sedangkan Nilai pakai adalah nilai kini dari
taksiran arus kas yang diharapkan akan diterima dari suatu aset atau unit
penghasil kas.
C. Pengakuan Rugi Penurunan Nilai
Rugi
penurunan nilai aset yang tidak direvaluasi diakui dalam laporan laba rugi
komprehensif. Namun demikian, kerugian penurunan nilai aset revaluasian diakui dalam pendapatan komprehensif lain,
sepanjang kerugian penurunan nilai tidak melebihi jumlah surplus revaluasi
untuk aset yang sama. Rugi penurunan nilai aset revaluasian mengurangi surplus
revaluasi untuk aset tersebut.
D.
Penurunan Nilai Pada Unit Penghasil Kas
Untuk
penghasil kas (UPK) aset adalah sekelompok terkecil dari aset yang termasuk
aset tersebut dan menghasilkan arus kas masuk yang independent dari arus kas
masuk aset atau sekelompok aset lainnya. Jika terdapat indikasi bahwa suatu
aset turun nilainya, jumlah terpulihkan diestimasi untuk aset individual. Jika
tidak mungkin untuk mengestimasi jumlah terpulihkan aset individual, entitas
menentukan nilai terpulihkan dari UPK yang mana aset tercakup (aset dari unit
penghasil).
Jumlah
terpulihkan dari suatu aset individual tidak dapat ditentukan jika :
1. Nilai
pakai aset tidak dapat diestimasi mendekati nilai wajarnya dikurangi biaya
penjualan ( contoh, apabila arus kas masa depan dari penggunaan aset tidak
dapat diestimasi menjadi tak berarti ) dan
2. Aset
tidak menghasilkan arus kas masuk yang
independen dari kelompok aset yang lain.
Entitas
menggunakan estimasi terbaik manajemen mengenai harga masa depan yang dapat
dicapai dalam transaksi wajar dalam mengestimasi :
a. Arus
kas masa depan
b. Arus
kas keluar masa depan
Seperti
halnya penjelasan sebelumnya dimana
pengakuan rugi penurunan nilai dilakukan apabila tercatat lebih tinggi
dari jumlah terpulihkan. Untuk menentukan apakah perlu diakui kerugian
penurunan nilai maka perlu ditentukan nilai wajar dikurangi biaya penjualan dan
nilai pakai dan dibandingkan dengan jumlah tercatat.
E.
Goodwill
Untuk
tujuan pengujian nilai, goodwill yang diperoleh dalam suatu kombinasi bisnis
harus sejak tanggal akuisisi, dialokasikan pada setiap unit penghasil kas pihak
pengakuisisi (atau kelompok unit penghasil kas) yang diharapkan memberikan
manfaat dari sinergi kombinasi, terlepas dari apakah aset atau liabilitas lain
dari pihak yang diakuisisi yang ditetapkan ke unit-unit atau kelompok unit-unit
tersebut. Rugi penurunan nilai dialokasikan untuk menurunkan jumlah tercatat
dari aset dengan tahapan sebagai berikut :
1. Pertama,
menurunkan jumlah tercatat dari goodwill yang telah dialokasikan pada UPK
2. Kedua,
mengalokasikan pada aset lainnya pada UPK secara prorata dari jumlah tercatat
pada masing-masing aset dalam UPK.
F.
Aset Korporat
Aset
korporat termasuk aset kelompok atau divisi seperti bangunan kantor pusat atau
divisi dari entitas, perlengkapan EDP atau pusat penelitian.
Karakteristik
khusus aset korporat antar lain:
a. Aset
korporat tidak menghasilkan arus kas masuk secara independen dari aset atau
kelompok aset lain
b. Jumlah
tercatatnya tidak dapat sepenuhnya
diatribusikan ke unit penghasil kas yang sedang ditelaah.
Jika
sebagian dari jumlah tercatat, maka aset korporat adalah sebagai berikut :
1. Dapat
dialokasikan dengan dasar yang layak dan konsisten terhadap unit tersebut,
entitas membandingkan jumlah tercatat dari unit (termasuk porsi dari jumlah
tercatat aset korporat yang dialokasikan ke unit tersebut) dengan jumlah
terpulihkan. Entitas harus mengakui setiap rugi penurunan nilai.
2. Tidak
dapat dialokasikan pada suatu dasar yang layak dan konsisten ke unit itu,
entitas harus :
·
Membandingkan jumlah
tercatat unit diluar aset korporat dengan jumlah terpulihkan dan mengakui
setiap rugi penurunan nilai
·
Mengidentifikasi
kelompok kecil dari unit penghasil kas yang mencakup unit penghasil kas yang
ditelaah dan yang sebagian dari jumlah tercatat aset korporat dapat
dialokasikan atas dasar yang layak dan konsisten
·
Membandingkan jumlah
tercatat dari kelompok unit penghasil kas tersebut (termasuk bagian dari jumlah
tercatat aset korporat yang dialokasikan ke kelompok dari unit tersebut) dengan
jumlah terpulihkan dari kelompok unit itu. Setiap rugi penurunan nilai diakui.
G.
Pemulihan Rugi Penurunan Nilai
Entitas menilai
pada akhir setiap periode pelaporan apakah terdapat indikasi bahwa rugi
penurunan nilai yang telah diakui dalam periode sebelumnya untuk aset (selain
goodwill) mungkin tidak ada lagi atau mungkin telah menurun. Dalam menilai
apakah terdapat indikasi bahwa rugi penurunan nilai yang telah diakui pada
periode-periode sebelumnya untuk aset (selain goodwill) mungkin tidak ada lagi
atau mungkin telah menurunm, entitas mempertimbangkan , minimal, indikasi
berikut ini.
·
Informasi yang
bersumber dari luar
·
Informasi yang
bersumber dari dalam
Rugi penurunan
nilai yang telah diakui dalam periode-periode sebelumnya untuk aset selain
goodwill harus dibalik jika, dan hanya jika terdapat perubahan estimasi yang
digunakan untuk menentukan jumlah terpulihkan atas aset tersebut sejak rugi
penurunan nilai terakhir diakui.
Pembalikan rugi
penurunan nilai untuk suatu unit penghasil kas dialokasikan kepada aset-aset
dari unit (kecuali untuk goodwill) prorata dengan jumlah tercatat dari
aset-asetnya. Dalam mengalokasikan pembalikkan rugi penurunan nilai untuk unit
penghasil kas, jumlah tercatat aset tidak boleh dinakikan diatas nilai terendah
dari :
1.
Jumlah terpulihkan
(jika ditentukan) dan
2.
Jumlah tercatat yang
telah ditentukan (amortisasi atau depresiasi neto) seandainya tidak ada rugi
penurunan nilai yang telah diakui untuk aset tersebut dalam periode sebelumnya.
2 komentar:
artikelnyo rancak,
Thx :)
Semoga bermanfaat y
Posting Komentar